Tumbuhan Pun Bertasbih Memuji Allah

Pada sebuah penelitian ilmiah yang diberitakan oleh sebuah majalah sains terkenal, Journal of Plant Molecular Biologies, menyebutkan bahwa sekelompok ilmuwan yang mengadakan penelitian mendapatkan suara halus yang keluar dari sebagian tumbuhan yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa. Suara tersebut berhasil disimpan dan direkam dengan sebuah alat perekam tercanggih yang pernah ada.

Para ilmuwan selama hampir 3 tahun meneliti fenomena yang mencengangkan ini berhasil menganalisis denyutan atau detak suara tersebut sehingga menjadi isyarat-isyarat yang bersifat cahaya elektrik (kahrudhoiyah) dengan sebuah alat canggih yang bernama oscilloscope.

Akhirnya para ilmuwan tersebut bisa menyaksikan denyutan cahaya elektrik itu berulang lebih dari 1000 kali dalam satu detik!!!

Prof. William Brown (alm.) yang memimpin para pakar sains untuk mengkaji fenomena tersebut mengisyaratkan setelah dicapainya hasil bahwasanya tidak ada penafsiran ilmiah atas fenomena tersebut.

Padahal seperti diakui oleh sang profesor bahwa pihaknya telah menyerahkan hasil penelitian mereka kepada universitas-universitas serta pusat-pusat kajian di Amerika dan Eropa, akan tetapi semuanya tidak sanggup menafsirkan fenomena bahkan semuanya tercengang tidak tahu harus komentar apa.

Pada kesempatan terakhir, fenomena tersebut dihadapkan dan dikaji oleh para pakar dari Britania, dan di antara mereka ada seorang ilmuwan Muslim yang berasal dari India. Setelah 5 hari mengadakan kajian dan penelitian ternyata para ilmuwan dari Inggris tersebut angkat tangan. Sang ilmuwan Muslim tersebut mengatakan: “Kami umat Islam tahu tafsir dan makna dari fenomena ini, bahkan semenjak 1400 tahun yang lalu!”

Maka para ilmuwan yang hadir pun tersentak dengan pernyataan tersebut, dan meminta dengan sangat untuk menunjukkan tafsir dan makna dari kejadian itu.

Sang ilmuwan Muslim segera menyitir firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“… Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’: 44)

Tidaklah suara denyutan halus tersebut melainkan lafadz jalalah (nama Allah Subhanahu wa Ta’ala) sebagaimana tampak dalam layar.

Maka keheningan dan keheranan yang luar biasa menghiasi aula dimana ilmuwan tersebut berbicara.

Subhanallah, Maha Suci Allah! Ini adalah salah satu mukjizat dari sekian mukjizat agama yang haq ini! Segala sesuatu bertasbih mengagungkan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akhirnya orang yang bertanggung jawab terhadap penelitian ini, yaitu Profesor William Brown menemui sang ilmuwan muslim untuk mendiskusikan tentang agama yang dibawa oleh seorang Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) sebelum 1400 tahun lalu tentang fenomena ini. Maka ilmuwan tersebut pun menerangkan kepadanya tentang Islam, setelah itu ia memberikan hadiah Al-Qur’an dan terjemahnya kepada sang profesor.

Selang beberapa hari setelah itu, Profesor William mengadakan ceramah di Universitas Carnegie Mellon, ia mengatakan: “Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya. Akan tetapi satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah dalam Al-Qur’an. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan Syahadatain: “Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq melainkan Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”.

Pariwisata di Tanah Tolaki


Kendari Beach

Teluk Kendari Yang Indah

Para penjelajah dari Eropa terpesona ketika melintas di jazirah tenggara Sulawesi beberapa ratus tahun silam. Mereka menemukan sebuah teluk yang indah dengan perairan yang tenang. Terlindungi dari ganasnya Laut Banda dalam apitan dataran menghijau yang sejuk.
Teluk ini merupakan bagian dari pusat kota lama Kendari, Provinsi Sulawesi Tenaggara, Indonesia. Terletak di pesisir bagian timur kota.
Teluk Kendari kini berfungsi sebagai water front-nya Kota Kendari. Berbentuk garis pantai yang membentang sepanjang kurang lebih tiga kilometer. Teluk Kendari menawarkan pesona alam karena diapit oleh daratan hijau yang subur serta Pulau Bungkutoko yang tampak rimbun.

Sore hari memang merupakan waktu yang nyaman untuk untuk menikmati keelokan Teluk Kendari. Air laut yang memantulkan cahaya berwarna kuning emas menciptakan suasana romantis dan menyejukkan hati. Pemandangan nelayan pergi melaut dengan perahu mereka yang berwarna-warni membuat teluk ini semakin mempesona.

Memasuki malam, suasana di kawasan pesisir Kendari ini semakin mengasyikan. Puluhan tenda pedagang menawarkan berbagai makanan khas Sulawesi. Tenda-tenda itu berjajar rapi di bibir teluk. Saat malam Minggu atau libur, kawasan ini ramai dipenuhi muda-mudi yang ingin bersantai sambil bercengkrama.

Tak sulit untuk menuju Teluk Kendari dari posisi mana pun Anda berada di kota tersebut. Anda bisa menggunakan angkutan kota atau fasilitas angkutan yang disediakan beberapa hotel di sana.

Pantai Nambo

sore di Pantai nambo

Di Kendari dan sekitarnya, Pantai Nambo merupakan obyek wisata favorit bagi warga. Sebab pantai ini memang nyaman untuk bersantai. Untuk melepas lelah dan penat. Suasananya tenteram karena relatif tak tersentuh kebisingan kota

Pantai Nambo terletak di Kecamatan Abeli, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Indonesia. Berjarak sekitar 12 kilometer sebelah selatan pusat Kota Kendari.

Air laut yang tenang dan jernih membuat pantai ini nyaman untuk berenang atau. dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan umum atau pribadi dan dapat pula menggunakan perahu dari pelabuhan kendari yang memakan waktu ± 15 menit. Pantai ini memiliki pasir putih yang landai, suasana yang tenang, udara yang bersih dan sangat cocok untuk mandi dan berjemur di pantai.

Pantai ini dulu adalah rawa. Lalu pemerintah setempat membangunnya sebagai lokasi wisata. Ada pendopo yang dibangun di tepi pantai. Di pendopo inilah Anda bisa menikmati keindahan pantai, laut yang luas dengan pemandangan Pulau Bokori yang mungil, dan menikmati kelapa
muda.

Ombak yang tenang dan air yang jernih sangat pas untuk berenang. Tersedia perahu-perahu sampan tradisional yang berjajar di pinggir pantai. Setiap akhir pekan, Pantai Nambo menyajikan beragam hiburan dan pertunjukan. Ada musik modern, ada pula musik tradisional.

Pantai ini juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang, seperti toilet, rumah terapung di tengah laut yang bisa disewa untuk bermalam, camping ground, serta warung-warung yang menjajakan minuman dan makanan ringan lainnya.

Air Terjun Moramo

Ait Terjun Moramo

Setelah tiba di kendari tanah tolaki, segarkan diri anda di dalam air “kolam” yang dingin di air terjun Moramo yang unik, yang terletak sekitar 65 km selatan Kendari

Mengalir melewati hutan tebal, air terjun ini dilindungi sebuah dataran tinggi sekitar dua kilometer dengan jumlah 127 undakan kecil terpisah

Air terjun ini terdiri dari banyak dinding–dinding yang dinamai calc-sinter dengan bak mandi alami yang besar

Dalam perjalanan menuju air terjun anda sudah bisa mendapatkan suatu kesan terhadap margasatwa yang berwarna–warni dari hutan

Kupu–kupu yang indah bersinar dalam setiap variasi warna anda bisa bayangkan mungkin gampang diamati pada genangan air yang terdapat disepanjang perjalanan…

Pantai Taipa

Pantai Taipa

Disebelah utara kota kendari anda bisa menemukan pantai indah nan eksotik di Tanjung Taipa. Sepanjang pantai berpasir hitam yang panjangnya satu mil ini anda bisa menyaksikan burung Maleo yang memang langka, se jenis burung purbakala, mereka melakukan aktivitas unik cara bertelur

Arungi pula sebuah perjalanan singkat melewati jalan kecil menuju ke puncak Goa Kelelawar pada ujung teluk.

Pada goa ini anda bisa mengamati ratusan kelelawar bergegas pergi pada saat subuh tiba. Dari sini, anda bisa juga menikmati pemandangan yang spektakuler di seluruh teluk.

Pantai ini benar–benar tanpa bebatuan dan bisa kita bisa berjalan perlahan–lahan  ke dalam laut yang dangkal yang  idealnya sangat cocok untuk anak–anak muda atau orang yang tidak bisa berenang atau yang begitu takut dengan air tropis yang belum dikenal

Sulawesi Tenggara

Provinsi Sulawesi Tenggara (SUL-TRA) atau dikenal dengan julukan “Bumi Anoa” adalah salah satu Provinsi di Indonesia yang terletak dijazirah tenggara pulau Sulawesi. Disebut sebagai Bumi Anoa karena di daerah inilah hewan langka yang dilindungi tersebut hidup. Selain anoa ada burung khas Sulawesi tenggara yang juga dilindungi oleh pemerintah yaitu Burung Maleo

Suku Tolaki

Suku Tolaki adalah salah satu suku terbesar yang ada di Propinsi Sulawesi Tenggara di samping Suku Buton dan Suku Muna, tersebar di Kota Kendari, Kab. Konawe, Kabupaten Konawe Selatan, Kab. Konawe Utara, Kab. Kolaka dan Kab. Kolaka Utara.

Yang berada di Kab. Kolaka dan Kolaka Utara mendiami daerah Mowewe, Rate-rate dan wundulako sedangkan yang berada di Kota Kendari, Konawe, Konawe selatan dan konawe Utara mendiami daerah Asera, Lasolo, Wawotobi, Lambuya, Abuki dan Tinanggea. Orang Tolaki pada mulanya menamakan dirinya Tolohianga (orang dari langit). Menurut Tarimana (1993), yang dimaksud “langit” adalah “kerajaan langit” sebagaimana dikenal dalam budaya Cina (Granat, dalam Needhan 1973 dikutip Tarimana). Dalam dugaannya, ada keterkaitan antara kata “hiu” yang dalam bahasa Cina berarti “langit” dengan kata “heo” (Tolaki) yang berarti “ikut pergi ke langit”.

Budaya Tolaki

Kelembagaan Adat Tolaki
Kelembagaan adat pada masyarakat Tolaki sebenarnya terdiri dari berbagai lapisan mulai dari sistem kelembagaan kerajaan yang kemudian terbagi pada wilayah-wilayah yang mana terdapat 2 kerajaan besar yaitu kerajaan Konawe dan Mekongga. Namun kelembagaan adat seperti yang di uraikan di bawah ini adalah kelembagaan adat yang digunakan di lapisan bawah(kecamatan dan desa) yang berlangsung sampai tahun 1961 sebelum masuknya sistem pemerintahan modern berdasarkan UUD kelembagaan orang tolaki secara umum terdiri dari :

  • Pu’utobu adalah kepala wilayah yang mengepalai beberapa kampung.biasanya terdiri atas 7 kampung.
  • Tonomotuo adalah kepala kampung atau orang yang di tuakan dalam suatu kampung.
  • Posudo adalah wakil kampung yang berfungsi mewakili kepala kampung pada saat berhalangan. selanjutnya untuk membantu tugas-tugas kelembagaan tersebut terdiri dari :
  • Pabitara yaitu pemangku adat,yang bertanggung jawab penuh terhadap segala urusan yang berkaitan dengan adat.
  • Tolea yaitu juru bicara dalam urusan adat yang bertanggung jawab menyampaikan hal ikhwal dalam pembicaraan adat.
  • Tamalaki yaitu kepala keamanan yang bertanggung jawab terhadap keamanan kampung.
  • Tadu yaitu ahli pengintai musuh yang bertanggung jawab terhadap penjagaan kawasan kampung dari gangguan orang luar.
  • Tusawuta yaitu aparat yang mengurusi dan bertanggung jawab terhadap urusan bidang pertanian.
  • Mbusehe yaitu dukun pertanian.
  • Mbuowai yaitu dukun padi.
  • Mbuakoi yaitu dukun penyakit.

Seni Musik dan Tari Tolaki

Seperti Suku Betawi di Kota Jakarta. Seni budaya Tolaki pun sama dengan daerah lain. Kalau Aceh terkenal dengan Tari Seudati, Jakarta tersohor dengan Tari Topeng Betawi, maka Kendari pun memiliki beberapa tarian tradisional yang khas, seperti Tari Mondotambe dan Tari Lulo. Olehnya itu Kendari juga sering disebut dengan julukan “Kota LULO

Tari Mondotambe

Tari Mondotambe atau tari penjemputan merupakan tarian khas Suku Tolaki yang kerap ditampilkan saat ada event berskala besar atau untuk menjemput tamu besar. Misalnya saat pembukaan Festival Teluk Kendari (Festek) yang  dihadiri beberapa tamu penting.

Tarian ini dilakoni oleh 12 penari perempuan muda dan 2 penari lelaki sebagai pengawal. Para penari wanita mengenakan busana motif Tabere atau hiasan, sarung tenun Tolaki, dan aksesoris seperti Ngaluh atau ikat kepala, serta kalung. Dalam tarian berdurasi sekitar 5 sampai 10 menit ini, beberapa penari perempuan membawa Bosara atau bokor dari rotan, sedangkan dua penari lelakinya memegang senjata tradisional.

Tari Lulo
Tari Lulo merupakan tari pergaulan khas yang populer di Kota Kendari. Tarian ini biasanya dilakukan oleh kawula muda sebagai ajang perkenalan. Kini Tari Lulo juga kerap disuguhkan saat ada tamu kehormatan sebagai tanda persahabatan antara warga Kota Kendari dengan pendatang, misalnya para wisatawan. Gerakan Tari Lulo tidak rumit dibanding dengan tradisional tarian tradisonal lain. Para penarinya saling berpegang tangan satu sama lain membentuk lingkaran yang saling menyambung. Dalam sebuah acara besar yang dihadiri pengujung dari luar Kota Kendari, para penari Lulo selalu mengajak tamu dengan ramah untuk ikut menari. Setiap tamu yang tidak bisa menari akan dianjarkan cara melangkah atau menari ala Tari Lulo oleh penari yang mengajaknya hingga terbiasa.

Tari Mekindohosi
Mekindohosi dalam bahasa daerah suku tolaki yaitu sekelompok tani yang bekerja bersama-sama secara gotong royong dari satu lahan ke lahan yang lain hingga tuntas, siap ditanami seluruh lahan dalam satu kelompok tani

Tari Moana
Moana, dalam bahasa Tolaki artinya menganyam. Menganyam adalah salah satu kerajinan tangan yang sejak jaman dahulu, dan sampai sekarang masih tetap dilestarikan dan tetap dipertahankan keasliannya. Bahan baku anyaman ini terbuat dari pohon agel yang tumbuh liar dirawa-rawa,batangnya berduri daunnya berbentuk kipas. Agar lebih terkesan bagi pencinta seni khususnya seni tari menggarap salah satu tari yang menggambarkan gerakan menganyam, yang digerakkan 8 orang penari putri dengan lemah gemulai mengerakkan tari menganyam mulai dari pengolahan bahan bakunya sampai jadi anyaman dan sebagai alat properti dalam tari ini.

Musik Bambu
Orang Tolaki membuat alat musik dengan memanfaatkan bahan-bahan dari alam, seperti bambu. Alat musik bambu merupakan alat musik dengan tiga kelompok suara, yaitu melody, rhytm, dan bass. Melody biasanya dimainkan dengan seruling, bass dengan alat tiup bambu yang berukuran agak besar (sama dengan fungsi trombone dalam musik orchestra), dan rythm dimainkan dengan alat tiup yang berukuran lebih kecil. Perkusinya adalah berupa gendang dari kulit kambing atau rusa. Bambu yang tiup, disebut ” ndua-ndua” . Pada jaman dahulu kala ” ndua-ndua” ini digunakan untuk alat komunikasi untuk memanggil seseorang yang berada di kejauhan atau berada diseberang sungai atau seberang gunung. Sedangkan seruling yang ditiup yang suku tolaki namakan ” wuwuhi” , pada jaman dahulu kala wuwuhi digunakan pada saat melepas lelah manakala sedang menunggu atau menjaga padi diladang atau disawah dan juga pada saat menggembala kerbau( kinuku ). Kemudian pada suatu saat di padukan antara ndua-ndua dan wuwuhi dilengkapi dengan dimba-dimba atau gendang kemudian dibentuk sedemikian rupa sehingga berbentuk nada-nada yang beraturan kemudian diaransemen sehingga mendapatkan keharmonisan

Upacara Adat Mosehe
Mosehe adalah salah satu bentuk upacara ritual yang bertujuan untuk menolak datangnya malapetaka karena telah melakukan pelanggaran baik sengaja maupun tidak sengaja.

DALIL ALQURAN TENTANG SUNGAI DIBAWAH LAUT

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)

Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton acara TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan penyelam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu membingungkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinasi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut. Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez . Ayat itu berbunyi

“Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan…”

Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.”

Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas. Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut.

Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” ertinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara. Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam.

Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20.. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam. Allahu Akbar…!

Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung.. Shadaqallahu Al `Azhim.Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.” Bila seorang bertanya, “Bagaimanakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran.”

Jika anda seorang penyelam, maka anda harus mengunjungi Cenote Angelita , Mexico . Disana ada sebuah gua. Jika anda menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya air segar (tawar), namun jika anda menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya menjadi air asin, lalu anda dapat melihat sebuah “sungai” di dasarnya, lengkap dengan pohon dan daun daunan.  Lihatlah betapa hebatnya ciptaan Allah SWT. Dalil : Al-Quran.

Disini Aku Dilahirkan

Kabupaten Konawe

Kabupaten Konawe adalah salah satu Daerah Tingat II di Provinsi Sulawesi Tenggara. Ibukota Kabupaten ini terletak di Kota Unaaha. Dulu kabupaten ini bernama Kabupaten Kendari dengan ibukotanya  di Kendari. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 16.480 km² dan berpenduduk sebanyak 443.911 (2000). Kabupaten Konawe dikenal sebagai lumbung beras provinsi Sulawesi Tenggara. Separuh produksi beras provinsi tersebut berasal dari daerah ini.

Kabupaten Konawe yang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara adalah hasil pemekaran Kabupaten Kendari (UU Nomor : 6 tahun 1995). Secara administratif Kabupaten Konawe meliputi Kecamatan Sampara, Soropia, Bondoala, Besulutu, Pondidaha, Wonggeduku, Wawotobi, Unaaha, Tongauna, Abuki, Asinua Utama, Latoma Utama, Uepay, Puriala, Lambuya dan Onembute .

Berdasarkan arah dan kebijakan pembangunan wilayah Sulawesi Tenggara, Kabupaten Konawe termasuk sebagai kawasan andalan penyangga Kota Kendari, yang diperuntukkan menjadi kawasan pertanian dan agroindustri.

Obyek Wisata Pantai Batu Gong
Pantai Batu Gong (Watu Nggarandu) terletak di Kabupaten Konawe, sekitar 17 kilometer sebelah utara Kota Kendari. Lokasi pantai yang agak jauh dari pemukiman membuat suasana pantai ini terasa lebih sunyi dan alami. Pantai ini menghadap langsung ke Laut Banda yang luas. Sementara di sisi selatan, gugusan pegunungan Nipanipa berdiri dengan gagah.

Nama Pantai ini sangat unik, yaitu Pantai Batu Gong. Batu berasal dari kata ‘Batu’ dan kata ‘Gong’ yang berasal dari sebuah batu besar yang mengeluarkan suara gong (sejenis alat musik tradisional) apabila terkena pukulan ombak laut. Pantai Batu Gong dengan pasir putih sebagai ciri khasnya yang unik merupakan tempat yang tidak bisa dilewatkan begitu saja untuk dikunjung. Masyarakat setempat punya legenda tentang suara gong yang kerap terdengar. Tentang suara gong ini, konon berasal dari gugusan karang yang terlihat di sebelah selatan pantai. Walaupun belum bisa diklarifikasi mengenai bagaimana proses bunyi itu terjadi, warga sekitar dikabarkan sering mendengarnya.

Di pantai ini tersedia beberapa bagunan-bangunan kecil (Gazebo) untuk bersantai. Anda bisa menyewa untuk beberapa saat untuk beristirahat dan menikmati pemandangan laut luas nan jernih. Beberapa warung yang menjajakan makanan juga berdiri di tepi pantai.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!