Sulawesi Tenggara

Provinsi Sulawesi Tenggara (SUL-TRA) atau dikenal dengan julukan “Bumi Anoa” adalah salah satu Provinsi di Indonesia yang terletak dijazirah tenggara pulau Sulawesi. Disebut sebagai Bumi Anoa karena di daerah inilah hewan langka yang dilindungi tersebut hidup. Selain anoa ada burung khas Sulawesi tenggara yang juga dilindungi oleh pemerintah yaitu Burung Maleo

Suku Tolaki

Suku Tolaki adalah salah satu suku terbesar yang ada di Propinsi Sulawesi Tenggara di samping Suku Buton dan Suku Muna, tersebar di Kota Kendari, Kab. Konawe, Kabupaten Konawe Selatan, Kab. Konawe Utara, Kab. Kolaka dan Kab. Kolaka Utara.

Yang berada di Kab. Kolaka dan Kolaka Utara mendiami daerah Mowewe, Rate-rate dan wundulako sedangkan yang berada di Kota Kendari, Konawe, Konawe selatan dan konawe Utara mendiami daerah Asera, Lasolo, Wawotobi, Lambuya, Abuki dan Tinanggea. Orang Tolaki pada mulanya menamakan dirinya Tolohianga (orang dari langit). Menurut Tarimana (1993), yang dimaksud “langit” adalah “kerajaan langit” sebagaimana dikenal dalam budaya Cina (Granat, dalam Needhan 1973 dikutip Tarimana). Dalam dugaannya, ada keterkaitan antara kata “hiu” yang dalam bahasa Cina berarti “langit” dengan kata “heo” (Tolaki) yang berarti “ikut pergi ke langit”.

Budaya Tolaki

Kelembagaan Adat Tolaki
Kelembagaan adat pada masyarakat Tolaki sebenarnya terdiri dari berbagai lapisan mulai dari sistem kelembagaan kerajaan yang kemudian terbagi pada wilayah-wilayah yang mana terdapat 2 kerajaan besar yaitu kerajaan Konawe dan Mekongga. Namun kelembagaan adat seperti yang di uraikan di bawah ini adalah kelembagaan adat yang digunakan di lapisan bawah(kecamatan dan desa) yang berlangsung sampai tahun 1961 sebelum masuknya sistem pemerintahan modern berdasarkan UUD kelembagaan orang tolaki secara umum terdiri dari :

  • Pu’utobu adalah kepala wilayah yang mengepalai beberapa kampung.biasanya terdiri atas 7 kampung.
  • Tonomotuo adalah kepala kampung atau orang yang di tuakan dalam suatu kampung.
  • Posudo adalah wakil kampung yang berfungsi mewakili kepala kampung pada saat berhalangan. selanjutnya untuk membantu tugas-tugas kelembagaan tersebut terdiri dari :
  • Pabitara yaitu pemangku adat,yang bertanggung jawab penuh terhadap segala urusan yang berkaitan dengan adat.
  • Tolea yaitu juru bicara dalam urusan adat yang bertanggung jawab menyampaikan hal ikhwal dalam pembicaraan adat.
  • Tamalaki yaitu kepala keamanan yang bertanggung jawab terhadap keamanan kampung.
  • Tadu yaitu ahli pengintai musuh yang bertanggung jawab terhadap penjagaan kawasan kampung dari gangguan orang luar.
  • Tusawuta yaitu aparat yang mengurusi dan bertanggung jawab terhadap urusan bidang pertanian.
  • Mbusehe yaitu dukun pertanian.
  • Mbuowai yaitu dukun padi.
  • Mbuakoi yaitu dukun penyakit.

Seni Musik dan Tari Tolaki

Seperti Suku Betawi di Kota Jakarta. Seni budaya Tolaki pun sama dengan daerah lain. Kalau Aceh terkenal dengan Tari Seudati, Jakarta tersohor dengan Tari Topeng Betawi, maka Kendari pun memiliki beberapa tarian tradisional yang khas, seperti Tari Mondotambe dan Tari Lulo. Olehnya itu Kendari juga sering disebut dengan julukan “Kota LULO

Tari Mondotambe

Tari Mondotambe atau tari penjemputan merupakan tarian khas Suku Tolaki yang kerap ditampilkan saat ada event berskala besar atau untuk menjemput tamu besar. Misalnya saat pembukaan Festival Teluk Kendari (Festek) yang  dihadiri beberapa tamu penting.

Tarian ini dilakoni oleh 12 penari perempuan muda dan 2 penari lelaki sebagai pengawal. Para penari wanita mengenakan busana motif Tabere atau hiasan, sarung tenun Tolaki, dan aksesoris seperti Ngaluh atau ikat kepala, serta kalung. Dalam tarian berdurasi sekitar 5 sampai 10 menit ini, beberapa penari perempuan membawa Bosara atau bokor dari rotan, sedangkan dua penari lelakinya memegang senjata tradisional.

Tari Lulo
Tari Lulo merupakan tari pergaulan khas yang populer di Kota Kendari. Tarian ini biasanya dilakukan oleh kawula muda sebagai ajang perkenalan. Kini Tari Lulo juga kerap disuguhkan saat ada tamu kehormatan sebagai tanda persahabatan antara warga Kota Kendari dengan pendatang, misalnya para wisatawan. Gerakan Tari Lulo tidak rumit dibanding dengan tradisional tarian tradisonal lain. Para penarinya saling berpegang tangan satu sama lain membentuk lingkaran yang saling menyambung. Dalam sebuah acara besar yang dihadiri pengujung dari luar Kota Kendari, para penari Lulo selalu mengajak tamu dengan ramah untuk ikut menari. Setiap tamu yang tidak bisa menari akan dianjarkan cara melangkah atau menari ala Tari Lulo oleh penari yang mengajaknya hingga terbiasa.

Tari Mekindohosi
Mekindohosi dalam bahasa daerah suku tolaki yaitu sekelompok tani yang bekerja bersama-sama secara gotong royong dari satu lahan ke lahan yang lain hingga tuntas, siap ditanami seluruh lahan dalam satu kelompok tani

Tari Moana
Moana, dalam bahasa Tolaki artinya menganyam. Menganyam adalah salah satu kerajinan tangan yang sejak jaman dahulu, dan sampai sekarang masih tetap dilestarikan dan tetap dipertahankan keasliannya. Bahan baku anyaman ini terbuat dari pohon agel yang tumbuh liar dirawa-rawa,batangnya berduri daunnya berbentuk kipas. Agar lebih terkesan bagi pencinta seni khususnya seni tari menggarap salah satu tari yang menggambarkan gerakan menganyam, yang digerakkan 8 orang penari putri dengan lemah gemulai mengerakkan tari menganyam mulai dari pengolahan bahan bakunya sampai jadi anyaman dan sebagai alat properti dalam tari ini.

Musik Bambu
Orang Tolaki membuat alat musik dengan memanfaatkan bahan-bahan dari alam, seperti bambu. Alat musik bambu merupakan alat musik dengan tiga kelompok suara, yaitu melody, rhytm, dan bass. Melody biasanya dimainkan dengan seruling, bass dengan alat tiup bambu yang berukuran agak besar (sama dengan fungsi trombone dalam musik orchestra), dan rythm dimainkan dengan alat tiup yang berukuran lebih kecil. Perkusinya adalah berupa gendang dari kulit kambing atau rusa. Bambu yang tiup, disebut ” ndua-ndua” . Pada jaman dahulu kala ” ndua-ndua” ini digunakan untuk alat komunikasi untuk memanggil seseorang yang berada di kejauhan atau berada diseberang sungai atau seberang gunung. Sedangkan seruling yang ditiup yang suku tolaki namakan ” wuwuhi” , pada jaman dahulu kala wuwuhi digunakan pada saat melepas lelah manakala sedang menunggu atau menjaga padi diladang atau disawah dan juga pada saat menggembala kerbau( kinuku ). Kemudian pada suatu saat di padukan antara ndua-ndua dan wuwuhi dilengkapi dengan dimba-dimba atau gendang kemudian dibentuk sedemikian rupa sehingga berbentuk nada-nada yang beraturan kemudian diaransemen sehingga mendapatkan keharmonisan

Upacara Adat Mosehe
Mosehe adalah salah satu bentuk upacara ritual yang bertujuan untuk menolak datangnya malapetaka karena telah melakukan pelanggaran baik sengaja maupun tidak sengaja.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: